Lenteranusa.net, SUKOHARJO — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai berdampak pada harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Sukoharjo. Sejumlah pedagang mengaku harga kebutuhan pokok merangkak naik setelah PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga Pertamax dan Pertamax Green mulai Rabu (10/6/2026).
Sebagai informasi, Pertamax mengalami kenaikan dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
Pantauan Espos di Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo, Kamis (11/6/2026), sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan harga meski belum terlalu signifikan. Namun, para pedagang mengkhawatirkan tren kenaikan tersebut akan berlanjut apabila biaya distribusi terus meningkat.
Pedagang kebutuhan pokok di Pasar Ir. Soekarno, Sumiyem, mengatakan cabai rawit merah menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga paling mencolok dalam beberapa hari terakhir.
Saat ini, harga cabai rawit merah mencapai Rp65.000 per kilogram atau naik sekitar Rp2.000 dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp63.000 per kilogram.
“Ada kenaikan, tetapi tidak terlalu signifikan. Mungkin sekitar Rp1.000 sampai Rp2.000 per kilogram. Beberapa hari lalu cabai rawit merah masih Rp63.000 per kilogram,” ujar Sumiyem saat ditemui Espos.
Selain cabai, harga bawang putih juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya dijual Rp30.000-Rp32.000 per kilogram, kini harganya mencapai Rp35.000 per kilogram.
Menurut Sumiyem, harga sejumlah kebutuhan pokok sempat turun setelah Iduladha. Namun, tren tersebut kini berbalik seiring kenaikan harga BBM nonsubsidi.
“Harga komoditas pangan sempat turun setelah Iduladha, tetapi sekarang mulai naik lagi. Pembeli juga mulai berkurang karena masyarakat lebih berhati-hati membelanjakan uangnya,” katanya.
Kondisi serupa juga dirasakan pedagang daging ayam potong. Jarno, salah seorang pedagang ayam di Pasar Ir. Soekarno, mengaku harga daging ayam naik Rp1.000 per kilogram dalam beberapa hari terakhir.
Saat ini harga daging ayam potong berada di level Rp35.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp34.000 per kilogram.
“Harga ayam naik sekitar Rp1.000 per kilogram. Memang belum terlalu tinggi, tetapi kalau kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga ayam bisa menyentuh Rp40.000 per kilogram seperti saat Lebaran,” ujarnya.
Jarno berharap pemerintah segera melakukan langkah stabilisasi harga agar daya beli masyarakat tidak semakin tertekan. Menurutnya, dampak kenaikan harga tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga pedagang yang mengalami penurunan omzet akibat berkurangnya jumlah pembeli.
“Bukan hanya masyarakat yang tertekan secara ekonomi, pedagang juga merasakan dampaknya. Kami semakin sulit menjual barang dagangan karena harga terus naik,” katanya.
Sejumlah pedagang menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi menambah biaya distribusi barang dari produsen hingga pasar. Meski dampaknya belum terlalu besar, mereka khawatir harga kebutuhan pokok akan terus merangkak naik apabila tidak ada intervensi dari pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan distribusi pangan.

Leave a Reply