UIN Saizu Bekali Peserta Moderasi Beragama dengan Iceberg Analysis dan U Theory

UIN Saizu Bekali Peserta Moderasi Beragama dengan Iceberg Analysis dan U Theory
Peserta Training of Trainers (ToT) Moderasi Beragama mempraktikkan metode Iceberg Analysis dan U Theory, Rabu (28/10/2026). Pelatihan digelar melalui kerja sama UIN Saizu Purwokerto, Pusat Pengembangan Moderasi Beragama (Puspenma) Kementerian Agama, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). (Istimewa)

Lenteranusa.net, PURWOKERTO—Sebanyak 30 peserta Training of Trainers (ToT) Moderasi Beragama mempraktikkan metode Iceberg Analysis dan U Theory untuk mengurai asumsi serta membangun perspektif dalam memahami persoalan keberagaman.

Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (28/10/2026) melalui kerja sama Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Pusat Pengembangan Moderasi Beragama (Puspenma) Kementerian Agama RI, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Materi bertajuk “Udar Asumsi Membangun Perspektif” tersebut difasilitasi oleh Dr. Nasrulloh dan Dr. Muh. Khamdan. Dalam sesi ini, peserta mempelajari cara memahami suatu fenomena secara lebih mendalam melalui analisis peristiwa, pola perilaku, struktur sistem, hingga asumsi atau model mental yang memengaruhinya.

Dr. Nasrulloh menjelaskan Iceberg Analysis merupakan pendekatan untuk melihat persoalan tidak hanya dari peristiwa yang tampak di permukaan, tetapi juga dari pola dan struktur yang melatarbelakanginya.

“Iceberg Analysis membantu kita memahami bahwa sebuah peristiwa yang terlihat sebenarnya hanya bagian kecil dari persoalan. Di baliknya, ada pola yang berulang, struktur sistem yang memengaruhi, serta model mental atau asumsi yang membentuk cara seseorang berpikir dan bertindak,” jelas Dr. Nasrulloh. 

Selain Iceberg Analysis, peserta mempelajari U Theory atau teori U yang berkaitan dengan proses memahami persoalan, merefleksikan asumsi, dan membangun perspektif baru sebelum menentukan langkah atau tindakan. Pendekatan ini mendorong peserta untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, melainkan terlebih dahulu mendengarkan, mengamati, dan mendalami persoalan dari berbagai sudut pandang.

“Melalui U Theory, peserta diajak untuk tidak langsung bereaksi terhadap suatu persoalan. Mereka perlu membuka diri terhadap informasi dan perspektif yang berbeda, merefleksikan asumsi yang dimiliki, kemudian merumuskan respons atau tindakan yang lebih tepat,” jelas Dr. Nasrulloh.

Dalam sesi tersebut, kedua fasilitator juga membahas teknik pengambilan keputusan melalui Ladder of Inference. Materi ini dilengkapi studi kasus tentang perbedaan pemahaman agama untuk membantu peserta mengenali bagaimana informasi yang diterima dapat memengaruhi penafsiran, asumsi, dan keputusan seseorang.

Peserta kemudian mempraktikkan empat lapisan dalam The Iceberg Model, yaitu peristiwa (events), pola perilaku (patterns of behavior), struktur sistem (systems structure), dan model mental (mental models). Melalui diskusi kelompok, mereka menggunakan kertas tempel (sticky notes) untuk mengidentifikasi peristiwa, pola dan tren, struktur penyebab, serta cara pandang yang mendasari fenomena keberagaman.

Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisisnya dengan mengangkat kasus kekerasan di masyarakat yang dilatarbelakangi perbedaan keyakinan beragama. Pada lapisan peristiwa, peserta mengidentifikasi kejadian yang menjadi objek pembahasan. Selanjutnya, pada lapisan pola atau tren, mereka menelaah pelaku, narasi, dan lokasi kejadian yang berulang serta dapat diamati.

Keyakinan dan Asumsi tertentu Memengaruhi Perilaku serta Hubungan Sosial

Pada lapisan struktur atau sistem, peserta mendiskusikan pengaruh lingkungan masyarakat, instruksi tokoh agama, dan kebijakan pemerintah. Mereka juga menelaah kemungkinan pembiaran yang berkaitan dengan kepentingan politik sebagai salah satu aspek yang perlu dikaji dalam memahami persoalan.

Sementara itu, pada lapisan model mental, peserta mengidentifikasi sejumlah asumsi yang dapat memengaruhi cara pandang masyarakat, antara lain anggapan bahwa kiai tidak pernah salah, kiai merupakan penerus nabi, serta pandangan bahwa kelompok mayoritas harus selalu menang.

Analisis ini membantu peserta memahami bagaimana keyakinan dan asumsi tertentu dapat memengaruhi perilaku serta hubungan sosial di tengah perbedaan.

Dalam sesi presentasi, fasilitator memberikan evaluasi terhadap hasil analisis setiap kelompok. Proses tersebut menjadi sarana bagi peserta untuk mempertajam kemampuan mengidentifikasi akar persoalan, menguji asumsi, dan membangun perspektif yang lebih menyeluruh dalam menghadapi persoalan keberagaman.

Pelatihan ini juga mengajak peserta menggali nilai-nilai universal dalam berbagai agama sebagai wujud nilai-nilai ketuhanan yang perlu diterapkan dalam kehidupan manusia. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengidentifikasi nilai-nilai luhur yang dapat ditemukan dalam berbagai tradisi keagamaan.

Melalui pembelajaran dan praktik Iceberg Analysis serta U Theory, peserta ToT Moderasi Beragama diharapkan mampu memahami persoalan keberagaman secara lebih mendalam, tidak hanya berdasarkan peristiwa yang terlihat, tetapi juga dengan menelaah pola, struktur, dan asumsi yang mendasarinya.

Kemampuan tersebut menjadi bekal bagi fasilitator untuk mendorong dialog, memperluas perspektif, dan membangun pemahaman yang lebih baik terhadap perbedaan di tengah masyarakat. (NA)

Leave a Reply