Lenteranusa.net, SEMARANG — Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% mulai memengaruhi psikologi masyarakat Jawa Tengah yang berencana membeli rumah. Sejumlah calon pembeli mengaku khawatir bunga mengambang atau floating rate pada kredit pemilikan rumah (KPR) ikut meningkat sehingga cicilan menjadi lebih berat di masa mendatang.
Salah seorang warga Kota Semarang, Ifa, 26, mengaku saat ini tengah menyiapkan diri untuk membeli rumah impian dalam tiga tahun ke depan. Meski sejumlah bank masih menawarkan bunga promosi yang relatif rendah pada masa awal kredit, ia mulai cemas setelah membaca informasi mengenai kenaikan suku bunga acuan BI.
Menurutnya, tenor KPR yang bisa mencapai 15 hingga 20 tahun membuat calon pembeli harus mempertimbangkan risiko perubahan bunga di masa depan.
“Mulai tanya teman-teman juga soal cicilan gimana kalau enggak ambil KPR subsidi. Karena gimana ya, cicilan 15-20 tahun kan enggak sebentar, apalagi kalau enggak flat,” kata Ifa saat berbincang dengan Espos, Selasa (23/6/2026) malam.
Ifa saat ini menargetkan memiliki dana sekitar Rp300 juta untuk membeli rumah di kawasan Semarang Raya. Namun, pekerja swasta dengan penghasilan setara upah minimum regional (UMR) itu juga mulai mempertimbangkan alternatif lain selain membeli rumah secara langsung.
“Dapat saran juga selain membeli, bisa bangun rumah bertahap, tapi harus sabar. Karena dari beli tanah dulu, nyicil material, terus bangun tembok dan lain-lain. Tapi oke juga sebenarnya yang ini,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa dirasakan Putri, 30, perantau asal Kabupaten Jepara yang bekerja di Kabupaten Demak. Ia mengaku kini lebih tertarik mempertimbangkan rumah subsidi karena menawarkan bunga yang lebih stabil dan harga yang lebih terjangkau.
“Kayanya mending beli rumah subsidi sih, aman, bunganya bisa flat dan harganya kan lebih terjangkau untuk pekerja gaji UMR,” kata Putri.
Sementara itu, Risky, 29, perantau asal Kabupaten Kudus yang bekerja di Kota Semarang, mengaku semakin pesimistis dapat memiliki rumah di kawasan perkotaan. Sebagai pencari nafkah utama keluarga, ia harus mempertimbangkan berbagai kebutuhan lain di tengah kenaikan biaya hidup.
“Kecuali kalau istri saya juga ikut kerja lain ceritanya. Meski memang ingin sih saya punya rumah yang deket-deket sama pusat Kota Semarang, biar kemana-mana enggak kejauhan, dekat dengan tempat kerja juga,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, mengakui kenaikan suku bunga acuan berpotensi memengaruhi minat masyarakat dalam mengakses kredit perumahan, termasuk rumah subsidi.
Meski demikian, ia menilai kebutuhan memiliki rumah tetap menjadi prioritas bagi sebagian besar masyarakat sehingga mereka akan berupaya mencari berbagai alternatif pembiayaan yang memungkinkan.
“Karena punya rumah ini kan sudah kebutuhan primer, jadinya masyarakat di Jawa Tengah saya rasa tetap berupaya mencari celah mendapat kredit dari bank. Maka dengan prediksi acuan kredit perumahan yang terkerek naik, tentu masyarakat akan tetap mencari solusinya,” kata Boedyo.
Ia menambahkan hingga saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah belum menerima keputusan resmi terkait penyesuaian suku bunga kredit perumahan sebagai dampak kenaikan suku bunga BI. Karena itu, program pembangunan tiga juta rumah yang menjadi bagian dari agenda pemerintah sejauh ini belum terdampak langsung oleh kebijakan tersebut.

Leave a Reply