Lenteranusa.net, SOLO — Gremet merupakan nama kampung di Kelurahan Manahan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo. Kampung padat penduduk ini berada di selatan Stadion Manahan dan di utara rel kereta api yang melintas di kawasan tersebut.
Di balik kawasan permukiman yang kini dikenal sebagai Kampung Gremet, tersimpan jejak sejarah panjang. Nama Gremet bahkan diduga berkaitan dengan istilah kuno yang merujuk pada keberadaan permukiman di kawasan tersebut sejak era Hindu.
Pegiat sejarah dari Solo Societeit, Dani Saptoni, saat diwawancara Espos, Jumat (21/8/2026), mengatakan Gremet merupakan kampung hunian lama yang sudah ada sejak zaman dulu. Diduga Gremet sudah ada sejak era klasik dalam arti era masyarakat ketika masih memeluk agama Hindu.
“Jadi menurut tulisan dari Prof Dr Purbocaroko, kata Gremet berasal dari kata bahasa kuno yang berbunyi Ri Ing Hemad yang artinya yang dipertuan di Hemad. Jadi desa itu dulu namanya Desa Hemad. Lama kelamaan karena pengucapan yang gampang, ri ing Hemad menjadi geremet,” ujar dia.
Jejak Permukiman Kuno di Manahan
Masih menurut Prof Dr Purbocaroko, Dani menjelaskan, di area Pasar Bangun Harjo Manahan ada bekas percandian. “Diduga oleh Prof Dr Purbocaroko, bekas area pasar Gremet di Manahan itu ada bekas percandian. Bekas pamujan yang menandakan bahwa di situ dulu adalah bekas permukiman kuno era Hindu dengan asal usul kata tadi,” urai dia.
Dani menjelaskan kawasan Kota Solo pada masa lalu bukanlah area kosong yang kemudian dihuni seiring berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Jauh sebelum Keraton Solo berdiri, kawasan Solo dan sekitarnya telah memiliki banyak permukiman atau hunian kuno masyarakat.
“Jauh sebelum Keraton Solo ada, area Kota Solo dan sekitarnya itu memang banyak permukiman kuno, yang kemudian nama-nama permukiman itu banyak yang berubah atau diubah sesuai dengan penyebutan yang lebih gampang atau dengan maksud-maksud tertentu karena dari sebutan yang diberikan oleh penguasa saat itu,” papar dia.
Penguasa ketika itu menurut Dani yaitu Keraton Solo dan Pura Mangkunegaran atau juga dari orang Eropa. “Jadi memang ada perubahan nama ya. Hal ini diperkuat dengan temuan beberapa artefak yang merupakan bagian percandian yang dulu pernah ditemukan di area Manahan Patung Kuda PDAM itu dulu merupakan sebuah pemandian mata air yang di tengahnya ada patung perempuan dengan nama Nyai Mbok Item,” urai dia.
Kemudian, ke utara lagi, pernah ada temuan Candi Nusukan yang sempat muncul saat pembangunan jalur Kali Anyar pada era KGPAA Mangkunagoro VII.

Leave a Reply