Klaten Alokasikan Rp3 M DBHCHT untuk Petani Tembakau, Alsintan hingga Pupuk

Klaten Alokasikan Rp3 M DBHCHT untuk Petani Tembakau, Alsintan hingga Pupuk
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau dan bertemu dengan relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu (25/10/2026). (Istimewa)

Lenteranusa.net, KLATEN — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten mengalokasikan anggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) 2026 di sektor pertanian senilai Rp3 miliar. Alokasi tersebut digunakan untuk mendukung budi daya tembakau, mulai dari pengadaan pupuk hingga pelatihan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten, Lilik Nugraharja, menjelaskan dana DBHCHT tahun ini di antaranya digunakan untuk meningkatkan kualitas bahan baku, terutama melalui penyediaan sarana produksi pertanian (saprodi).

Anggaran tersebut digunakan untuk menyalurkan bantuan pupuk kepada petani tembakau berupa pupuk NPK dengan total 48 ton, serta pupuk ZA dan pupuk organik cair (POC).

“Kemudian peningkatan kapasitas itu ada pelatihan budi daya. Kemudian ada temu bisnis, artinya untuk pemasaran tembakau karena saat ini agak susah untuk pemasaran tembakau rajangan. Kalau untuk tembakau asapan masih lumayan bagus pasarnya,” jelas Lilik, Sabtu (24/10/2026).

Selain pupuk dan pelatihan, anggaran tersebut digunakan untuk bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Bantuan itu di antaranya berupa dua kendaraan roda tiga untuk alat angkut, 20 kultivator, dan 40 penyemprot berdaya mesin (power sprayer). Bantuan alsintan tersebut segera diserahkan kepada kelompok tani penerima manfaat.

Bantuan-bantuan itu diperuntukkan bagi kelompok tani yang menanam tembakau. Di Klaten, daerah penanaman tembakau tersebar di sekitar 23 kecamatan.

Sementara itu, jumlah kelompok tani tembakau secara keseluruhan hampir 300 kelompok. Dari jumlah tersebut, penerima manfaat bantuan DBHCHT, terutama untuk saprodi, sekitar 26 kelompok.

“Karena anggaran terbatas, tahun lalu bisa untuk 30 kelompok, tahun ini 26 kelompok. Tetapi dari provinsi juga ada bantuan. Artinya, dari kabupaten dan provinsi ada. Tetapi untuk porsi terbesar memang dari kabupaten,” jelas Lilik.

Selain bantuan saprodi dan alsintan, DBHCHT juga disalurkan untuk program diversifikasi guna mendukung kesejahteraan petani tembakau.

“Dari anggaran di APBD murni, kemarin untuk membelikan bibit bawang merah bagi petani tembakau di wilayah Kecamatan Ngawen. Hasilnya sudah panen,” jelas Lilik.

Lilik menjelaskan bantuan-bantuan yang disalurkan ditujukan untuk mendukung sektor pertanian tembakau agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Terkait perkembangan budi daya, ia menjelaskan ada tren penurunan luas tanam tembakau rajangan menyusul sulitnya pemasaran.

Lain halnya dengan hasil budi daya tembakau asapan. Lilik mengungkapkan hasil budi daya tembakau asapan saat ini lebih stabil, bahkan mampu menembus pasar ekspor.

“Harapan kami yang tembakau rajangan ini bisa geser ke asapan,” jelas Lilik.

Leave a Reply