Lenteranusa.net, SEMARANG — Keterbatasan ekonomi sering kali menjadi penghalang bagi banyak orang untuk mengenyam pendidikan tinggi. Namun, kisah Nasikhin, 28, membuktikan bahwa kondisi tersebut bukan akhir dari segalanya.
Pemuda asal Batang, Jawa Tengah, itu baru saja meraih gelar doktor dalam bidang Studi Islam di UIN Walisongo Semarang. Pencapaian tersebut menjadi puncak perjalanan panjang yang pernah membawanya menyusuri jalan-jalan desa sebagai pemulung bersama sang ibu.
Nasikhin yang kini tercatat sebagai Dosen Luar Biasa (DLB) di UIN Walisongo mengikuti Ujian Terbuka Promosi Doktor (S-3) pada Selasa (9/6/2026). Dalam sidang tersebut, ia dinyatakan lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,89.
“Saudara Nasikhin dinyatakan lulus dengan IPK 3,89. Dengan ini, dinyatakan bahwa saudara Nasikhin adalah Doktor ke-409 yang diluluskan oleh UIN Walisongo Semarang,” ujar Ketua Sidang, Prof. Dr. H. Musahadi, dalam keterangan tertulis yang diterima Espos, Rabu (10/6/2026).
Dari Buku Bekas Kiloan Menuju Gelar Doktor
Di balik toga dan gelar akademik tertinggi yang kini disandangnya, Nasikhin memiliki perjalanan hidup yang tidak biasa.
Pada masa remajanya, ia membantu sang ibu memulung barang-barang bekas untuk menopang kebutuhan keluarga. Aktivitas itu dijalaninya selama bertahun-tahun di tengah keterbatasan ekonomi.
Di balik kerasnya kehidupan tersebut, terdapat kebiasaan sederhana yang kemudian mengubah arah hidupnya. Sang ibu kerap membawa pulang buku-buku bekas yang dibeli kiloan seharga Rp1.000 atau diperoleh dari warga.
Alih-alih langsung menjualnya kepada pengepul, Nasikhin selalu menyempatkan diri membaca buku-buku tersebut terlebih dahulu.
Dari lembaran-lembaran lusuh yang sering dianggap tak bernilai, ia menemukan pengetahuan baru. Kebiasaan membaca itu perlahan membentuk pola pikirnya, memperluas wawasan, dan menumbuhkan kecintaannya terhadap dunia pendidikan.
Menempuh Pendidikan dengan Berbagai Beasiswa
Perjalanan akademik Nasikhin menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu identik dengan keterbatasan peluang.
Jenjang sarjana ditempuhnya di UIN Walisongo Semarang melalui program beasiswa Bidikmisi. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan magister dengan beasiswa Lulusan Sarjana Terbaik UIN Walisongo Semarang.
Perjalanan pendidikannya berlanjut hingga jenjang doktoral melalui Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) yang diselenggarakan Kementerian Agama.
Dalam sidang promosi doktor, Nasikhin mempertahankan disertasi berjudul Literasi Artificial Intelligence dan Implikasinya dalam Pengembangan Keterampilan Abad 21 (Studi Kasus pada Mahasiswa Pendidikan Agama Islam di UIN Walisongo Semarang dan UII Yogyakarta).
Menyoroti Literasi AI dan Etika Digital
Melalui riset tersebut, Nasikhin menyoroti pentingnya literasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bagi mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI).
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu memahami kerangka epistemologis yang melandasi perkembangan teknologi tersebut.
“Saya menawarkan model literasi AI yang terintegrasi dengan etika digital Islam dan akhlak digital, sehingga pemanfaatan teknologi tetap berada dalam koridor nilai-nilai keagamaan,” tandas Nasikhin.
Kisah Nasikhin menunjukkan bahwa ketekunan, keberanian, dan konsistensi dalam belajar mampu melampaui berbagai keterbatasan. Dari seorang mantan pemulung yang akrab dengan buku-buku bekas, ia kini berhasil menapaki panggung akademik tertinggi dan meraih gelar doktor.

Leave a Reply