Lenteranusa.net, SEMARANG — Gori Yusuf Husen, menyentuh lembut permukaan perkamen kuno di lantai dasar Mal Ciputra Semarang. Berbalut kemeja hitam bersahaja, seniman kaligrafi asal Gujarat, India, itu mengamati detail karya kaligrafi bernilai sejarah tinggi yang ia pamerkan dalam pameran Kaligrafi di Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI tahun 2026, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).
Aroma serat alami, kain goni kasar, dan deretan kaligrafi kuno mencuri perhatian kala Espos melintas pada Minggu (13/9/2026) sore. Di tengah lalu lalang pengunjung dan deru pendingin udara di lantai dasar Mal, sudut itu berhasil menawarkan suasana yang berbeda.
Di pusat perhatian, Gori berdiri menyapa dan memberi senyum hangat kepada para pengunjung. Jemarinya yang telah puluhan tahun bergulat dengan tinta dan media lukis, dengan lembut menyentuh permukaan perkamen kuno, sebuah replika karya kaligrafi bernilai sejarah tinggi yang dibawa ke Indonesia.
“Saya tidak menciptakan sesuatu yang baru. Apa yang Anda lihat di sini, adalah replika karya kaligrafi berusia 600 hingga 1.200 tahun. Tugas saya sebagai seniman, adalah merawatnya, mendokumentasikannya, dan mengenalkannya kembali kepada generasi hari ini,” ucap Gori kala ditanya soal karya yang dipamerkan.
Gori telah menapaki dunia seni sejak 38 tahun lamanya. 27 tahun di antaranya, ia baktikan khusus untuk kaligrafi.
Bagi Gori, kaligrafi bukanlah tentang gaya pribadi atau mencari popularitas. Ia rela menjelajahi lebih dari 45 negara demi satu misi sederhana, yakni menjaga agar teknik kaligrafi klasik tak habis dimakan zaman.
Salah satu keunikan yang menyita perhatian dari karya-karya Gori adalah bahannya. Tak ada cat sintetis atau bahan kimia modern yang menyentuh kanvasnya.
Semua pewarna yang Gori gunakan murni berasal dari alam, mulai dari dedaunan, kulit pohon, hingga bebatuan yang ditumbuk. Baginya, pewarna alami punya jiwa, mampu bertahan melampaui zaman, tidak mudah pudar, dan menyatukan kembali dengan bumi.
“Teknik ini sudah dilakukan oleh para maestro 300 sampai 400 tahun lalu,” jelasnya seraya menunjukkan detail gradasi warna cokelat dan hitam yang anggun pada karyanya.
Lewat pameran keempatnya di Indonesia ini, Gori tak sekadar ingin memamerkan keindahan visual. Ia ingin membagikan pengetahuan kepada khalayak luas.
Bahkan di tengah era ketika seni sering kali diukur dengan nilai nominal dan angka penjualan, prinsip hidup Gori justru bergeming di arah berlawanan. Sebab, ketika ditanya apakah karya-karyanya yang memikat itu dijual kepada pengunjung, ia tersenyum tipis lalu menggeleng pelan.
“Bagaimana mungkin saya menjualnya? Bagi saya, menjual karya sendiri itu rasanya seperti seorang ibu yang menjual anaknya. Ketika Anda melukis hanya untuk menjualnya, cinta dan kebebasan Anda dalam berkarya akan terbatasi oleh keinginan pasar. Karya itu jadi tidak pernah benar-benar selesai,” ucapnya seraya tersenyum.
Oleh karena itu, Gori mengandalkan bisnis lain di luar dunia seni untuk bertahan hidup dan membiayai operasionalnya. Pilihan hidup ini, membuatnya bebas menciptakan karya, tanpa beban komersialisasi.
Dari sekitar 250 karya yang pernah Gori selesaikan, lebih dari 100 di antaranya telah dihibahkan secara cuma-cuma kepada museum, kementerian kebudayaan, dan para kolektor di berbagai negara dengan satu syarat mutlak. Yakni karya tersebut harus dijaga dan dimanfaatkan untuk edukasi generasi muda.
Di lantai dasar mal yang modern itu, kehadiran Gori Yusuf Husen menjadi sebuah oase. Di antara kepungan barang-barang serba instan, ia berdiri membawa nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, dan dedikasi murni pada peradaban.
Bagi Gori, ilmu dan keahlian yang dimiliki bukanlah milik pribadinya. Melainkan titipan yang harus terus dialirkan.
“Seni itu harus terus bernapas dan berkembang. Kewajiban saya, adalah memastikan api pengetahuan ini tidak padam, melainkan terus diwariskan dari satu tangan ke tangan lainnya.” tutupnya malam itu, sembari kembali melempar senyum hangat kepada pengunjung berikutnya yang menghampiri.

Leave a Reply