Kebakaran Gunung Lawu Merambat ke Ngawi, Sekat Bakar Capai 1,3 Km

Kebakaran Gunung Lawu Merambat ke Ngawi, Sekat Bakar Capai 1,3 Km
Petugas gabungan saat membuat sekat bakar di kawasan jalur pendakian Gunung Lawu via Jogorogo, Kabupaten Ngawi, Rabu (16/9/2026). (Dok. Relawan)

Lenteranusa.net, NGAWI — Tim gabungan membuat sekat bakar sepanjang 1,3 kilometer menyusul kebakaran hutan pinus di lereng Gunung Lawu yang menjalar dari wilayah Kabupaten Magetan ke Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, selama tiga hari terakhir. Sejumlah petugas juga akan mendirikan pos pantau di Pos 5 jalur pendakian Gunung Lawu via Jogorogo untuk mempermudah pemantauan.

Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, mengatakan tim gabungan terus berupaya mencegah kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu meluas ke wilayah Ngawi. Salah satu upaya yang dilakukan yakni membuat sekat bakar sepanjang 1,3 kilometer yang akan terus diperpanjang.

Menurutnya, pembuatan sekat bakar dilakukan petugas BPBD, Perhutani, relawan, PDAM, serta masyarakat peduli api dengan menyusuri kawasan hutan di atas Desa Karanggupito, Kecamatan Kendal, untuk memutus jalur rambatan api.

“Kami sudah membuat ilaran sepanjang 1.300 meter pada ketinggian 2.360 Mdpl,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).

Dari hasil pemantauan terkini, kebakaran hutan di wilayah Ngawi diperkirakan telah mencapai lebih dari 5 hektare. Menurut Ony, pembuatan ilaran menjadi langkah antisipasi agar api tidak kembali merambat ke wilayah bawah apabila kondisi angin berubah.

Saat ini, ia juga menambahkan tim masih berupaya membuka jalur sekat bakar menuju Pos 5 jalur pendakian Gunung Lawu via Jogorogo. Jarak yang harus dituntaskan sekitar 800 meter dari titik ilaran yang telah dibuat.

“Kami tidak ingin seperti dulu lagi. Anginnya ke atas kemudian bisa turun ke bawah. Karena itu kami membuat sekat bakar di wilayah atas Karanggupito,” jelasnya.

Menurutnya, Pos 5 dipilih sebagai salah satu titik pengamanan karena kawasan tersebut berupa savana. Kondisi itu diharapkan dapat membantu menghentikan rambatan api apabila kebakaran bergerak ke arah barat.

Untuk mempercepat penanganan, petugas gabungan memilih bermalam di lokasi. Ony menambahkan pergerakan angin yang mengarah ke atas membuat petugas memutuskan tidak turun dan memilih bertahan di lokasi.

Pos 5 Disiapkan Jadi Titik Pantau

“Pos 5 itu seperti savana. Kalau api naik, dimungkinkan tidak bisa lagi merembet ke barat,” tuturnya.

Ony menjelaskan kawasan hutan yang terbakar memiliki karakteristik berbeda. Pada bagian bawah, kebakaran terjadi di kawasan hutan produksi yang didominasi tanaman pinus.

Sementara di bagian atas merupakan kawasan hutan lindung dengan vegetasi berupa cemara, dan sejumlah tanaman perdu lainnya. “Kami tidak menunggu besok atau turun dulu. Kami harus menginap karena kalau anginnya besar, diperkirakan dalam dua hari api sudah sampai atas,” katanya.

Sebelumnya, kebakaran hutan pinus terjadi di lereng Gunung Lawu Petak 50+A1, RPH Bedagung, BKPH Lawu Selatan, KPH Lawu Ds pada Senin (14/9/2026). Hingga kini, api telah menjalar ke kawasan hutan lindung yang masuk area Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Leave a Reply