Lenteranusa.net, SRAGEN — Bangunan eks SDN Kragilan di Kecamatan Gemolong yang selama ini tidak terpakai akan disulap menjadi sekolah inklusi sekaligus pusat terapi bagi anak penyandang disabilitas. Fasilitas tersebut disiapkan melalui kolaborasi Dinas Sosial (Dinsos) Sragen dengan Yayasan Athaya Malika Cahya untuk memfasilitasi puluhan anak disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Bokor Kencana.
Bangunan sekolah yang berada di pinggir Jalan Solo–Purwodadi itu sudah cukup lama kosong setelah siswa direlokasi ke sekolah lain melalui program regrouping akibat minimnya jumlah peserta didik. Daripada terbengkalai, bangunan tersebut kini akan dimanfaatkan untuk kepentingan sosial dan pendidikan.
Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Sragen, Kusuma Adi Surya Pamungkas, menjelaskan langkah tersebut merupakan respons atas aspirasi para orang tua anak disabilitas yang selama ini kesulitan memperoleh fasilitas terapi dan pendampingan yang memadai.
Menurut Pamungkas, Komunitas Bokor Kencana menjadi salah satu komunitas binaan Dinsos yang paling aktif. Dari empat komunitas penyandang disabilitas yang dibina Dinsos Sragen, komunitas yang berbasis di Gemolong itu memiliki anggota terbanyak dengan jumlah lebih dari 60 orang.
“Selama ini mereka rutin mengadakan terapi mandiri setiap pekan dengan memanfaatkan Pendapa Kelurahan Kragilan. Namun fasilitasnya sangat terbatas karena ruangannya terbuka. Ketika hujan, mereka harus berpindah ke dalam kantor kelurahan,” ujar Pamungkas kepada Espos, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan anggota Komunitas Bokor Kencana tidak hanya berasal dari Gemolong, tetapi juga datang dari sejumlah daerah sekitar seperti Boyolali dan Solo. Melihat tingginya kebutuhan tersebut, Dinsos menggandeng Yayasan Athaya Malika Cahya untuk mencari lokasi yang lebih representatif dan berkelanjutan.
Pamungkas mengatakan sekolah inklusi yang akan dibangun nantinya difokuskan pada layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK) inklusi. Konsep yang diusung berbeda dengan sekolah luar biasa (SLB) karena tetap menggunakan sistem sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus dengan pendampingan guru khusus.
“Fasilitas ini diharapkan bisa meringankan beban orang tua. Selama ini untuk membayar guru pendamping khusus, ada yang harus mengeluarkan biaya sekitar Rp1 juta per bulan. Bagi keluarga kurang mampu tentu cukup berat,” katanya.
Selain menjadi pusat pendidikan dan terapi, lokasi tersebut juga dirancang sebagai pusat pemberdayaan ekonomi bagi para orang tua penyandang disabilitas. Berbagai pelatihan kewirausahaan akan diberikan agar para orang tua memiliki keterampilan tambahan dan peluang meningkatkan pendapatan tanpa harus meninggalkan anak-anak mereka.
“Jadi tidak hanya fokus pada anak, tetapi juga bagaimana orang tua bisa lebih berdaya secara ekonomi,” ujarnya.
Rencana pemanfaatan eks SDN Kragilan tersebut telah mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sragen. Bahkan, istri Bupati Sragen disebut telah meninjau langsung kondisi bangunan untuk melihat kesiapan lokasi.
Pamungkas mengatakan Bupati Sragen telah memberikan izin penggunaan gedung untuk kepentingan sosial dan pendidikan. Saat ini berbagai elemen masyarakat di Gemolong, termasuk relawan SAR dan warga sekitar, bergotong royong membersihkan area sekolah agar siap digunakan.
Meski demikian, sejumlah perbaikan masih diperlukan sebelum fasilitas tersebut dapat beroperasi. Beberapa bagian atap membutuhkan renovasi dan bangunan juga memerlukan pengecatan ulang.
“Kami masih membutuhkan dukungan untuk renovasi ringan, terutama atap dan pengecatan. Setelah bangunan siap, sekolah inklusi ini akan segera beroperasi sembari proses perizinan terus berjalan,” kata Pamungkas.
Dinsos berharap keberadaan sekolah inklusi dan pusat terapi tersebut dapat menjadi ruang belajar, terapi, serta pemberdayaan yang lebih layak bagi anak-anak penyandang disabilitas dan keluarganya di wilayah Sragen dan sekitarnya.

Leave a Reply